Langkahku
berawal di hari kamis tepatnya tanggal 21 Juni 2012. Aku meminta kakakku untuk
bersedia menemaniku ke suatu tempat yang sudah lama ku ingin kunjungi. Mesjid
apung, begitu orang-orang menyebutnya. Meskipun aku baru tiba dari kampus, aku
bertekad untuk pergi ke tempat itu. Lelah yang tadinya menyelubungi tubuhku,
seakan menguap bersama teriknya mentari sore. Tak lama kemudian kakakku datang.
Waktunya
berangkat. Ku ambil helm beserta alat tulisku sambil berlari-lari kecil
menghampirinya. Upsss kampung tengahku (perut) berbunyi krooookkk (lapar). Mmm… ternyata aku lupa makan. Jadi, kami
memutuskan untuk singgah makan terlebih dahulu kemudian pergi ke mesjid apung.
Langit orange pukul
16.30 menjadi saksi keberangkatan kami. Setelah menempuh perjalanan selama 15
menit, tibalah kami di warung Adem Ayem yang terletak dibelakang mesjid raya. Ini
kali kedua kami makan disini. Mmm… baksonya ajiiiiiippp loch. Jadi kenyang
nih,,, waktunya melanjutkan perjalanan.
Tepat pukul
17.00 kami melanjutkan perjalanan kami. Perjalanan dari warung tadi sampai ke
mesjid apung dapat di tempuh selama 30 menit dengan motor. Sungguh perjalanan
yang menyenangkan. Bagaimana tidak, sebelum memasuki kawasan mesjid apung, kami
sudah disapa dengan belaian angin dari pantai talise. Tak hanya itu, lengkungnya
jembatan ponulele (jembatan kuning) yang menjadi ikon kota Palu seakan
tersenyum menyambut kedatangan kami. Nyanyian ombak pun mengiringi putaran roda
motor kami. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan.
Nah, ini dia
mesjid apung. Sebenarnya nama dari mesjid ini yaitu mesjid Arqam baba rahman.
Tapi, karena dia terletak di atas laut maka semua orang menyebutnya mesjid
apung. Mesjid ini terletak di depan pertamina. Mesjid ini adalah satu-satunya
mesjid apung di kota Palu.
Keindahan mesjid
ini memaksa mataku untuk tetap memandangnya. Pandangan tanpa kata, seakan tak
ingin ada satupun yang menghalangi tatapanku. Jeprat… jepret… begitu bunyi
kamera kami terdengar. Sebelum masuk ke mesjid ini, aku dan kakakku
mengabadikan suasana itu ke dalam beberapa gambar. Wah ternyata bukan kami saja
yang mengambil foto mesjid ini, tapi ada juga sekelompok orang yang sengaja
singgah di depan mesjid untuk berfoto.
Sunset di pantai talise menambah indahnya
suasana sore di mesjid apung. Awan yang berwarna orange menghiasi celah-celah
jembatan tembok mesjid ini. Gemuruh ombak menyambar tiang-tiang kokoh sepanjang
9m yang menopang mesjid. Aku pun tertarik untuk mengabadikan momen tersebut.
Aku meminta kakakku untuk memfotoku di depan jembatan mesjid itu.
Karena ingin tahu lebih banyak
tentang sejarah mesjid apung, aku dan kakakku menemui penjaga mesjid yang
sedang duduk menikmati sejuknya pantai. Papa tengge, itulah panggilan kesehariannya.
Kemudian kami meminta waktu bapak itu untuk bisa bercerita lebih banyak tentang
mesjid apung. Alhamdulillah dia bersedia.
Orang tua paruh baya yang ramah itu
bercerita tentang mesjid apung mulai dari latarbelakang, proses pembangunan,
hingga bangunan mesjid itu selesai. Sebenarnya ada dua penjaga mesjid ini, tapi
aku bersama kakakku hanya bisa bertemu dengan papa Tengge.
Kami mendapatkan
banyak informasi dari percakapan itu. Dia mengatakan bahwa mesjid ini dibangun
oleh pak Arba, pemilik pertamina yang terletak di depan mesjid. Mesjid ini di
bangun di atas laut karena pada saat itu dia tidak mendapatkan tempat untuk
membangun mesjid di darat. Menurut penjaga mesjid, mesjid ini dibangun selama
15 bulan. Sebenarnya pembangunan mesjid ini hanya memakan waktu selama 7 bulan
saja tapi para pekerja harus menunggu air surut terlebih dahulu sebelum
melanjutkan pekerjaan mereka. Mesjid ini dibangun dengan batu-batu yang diambil
langsung dari India. Sedangkan pola mesjid ini dibuat langsung dari Jakarta.
Mesjid yang
dibangun dengan anggaran sekitar 2 Miliyar 850 juta ini, diresmikan pada
tanggal 19 Januari 2012 oleh gubernur Sulawesi tengah, H. Longki Djanggola. Beliau
juga menambahkan bahwa peresmian ini dilaksanakan pada hari kamis sekaligus
mengumumkan sholat jumat bersama-sama keesokan hari di mesjid tersebut. Mesjid
ini selalu penuh baik pada waktu sholat Jumat maupun sholat 5 waktu. Mesjid ini
juga membuka taman pengajian dan memiliki 85 santri. Santri-santri ini mengaji
setiap hari senin sampai kamis, sedangkan pada hari jumat mereka diajarkan
untuk praktek sholat, wudhu dan sebagainya. Tak hanya itu, ta’lim (diskusi
keagamaan) dari berbagai universitas juga sering dilaksanakan di tempat ini.
Indahnya mesjid
apung menambah sejuk suasana sore di hari itu. Orang-orang tak henti-hentinya
singgah sholat atau hanya sekedar berfoto-foto didepannya. Oh ya, ada yang
menarik, orang yang menikah pun singgah berfoto-foto disini, begitu kata
penjaga mesjid. Menurut salah satu pengunjung yang berfoto disini, dia sangat
senang mengabadikan foto dimesjid apung karena selain berfoto dengan latar
mesjid, dia juga bisa mendapatkan latar pantai, pegunungan, bahkan sunset di sore hari.
Tak terasa waktu
telah menujukan pukul 18.00. lantunan ayat-ayat al-qur’an dari mesjid ini telah
terdengar. Hari pun mulai gelap. Orang-orang pun berbondong-bondong ke mesjid
untuk melaksanakan sholat magrib. Penjaga mesjid pun menyalakan lampu mesjid
dan lampu kubah mesjid ini. Mesjid dengan kubah yang disinari lampu
berwarna-warni dari bagian dalam terlihat sangat indah.
Sebelum pulang
aku memberikan sedikit uang pada penjaga mesjid itu sebagai rasa terima kasihku
atas informasi yang diberikan. Seakan tak ingin pulang, langkahku berat
menapaki jembatan mesjid menuju pintu gerbangnya. Yah, kami harus pulang
sebelum azan tiba karena kakakku ingin melaksanakan sholat magrib di rumah. Sampai
jumpa mesjid apung yang indah, semoga aku bisa kemari lagi dilain hari. (n3a)


4 komentar:
sekedar saran, kalo ingin tulisan warna sebaiknya latarnya warna putih agar mudah dibaca, khususnya bagi mereka yg penglihatannya kurang baik...
jangan lupa kunjungi juga Blog-ku:
http://ojan-tolare.blogspot.com
Thanks,
Keep Write sista...!!!
hehe bru lht komennya,,,ia k, sbnrnya tulisan ini sy bwt dulu waktu blog sy msh brwarna putih
thanks for your advice brother :)
wahh... kak... this is a true travel writing....
informatif sekali... sy saja belum pernah masuk kedalam masjid. Hanya sekedar lalu lalang didepanx saja...
terima kasih, alhamdulillah kalau ada yg suka dengan tulisan ini. alhamdulillah tulisan ini terpilih mendaji salah satu tulisan yang dipublikasikan dalam lomba menulis cerita perjalanan di Bandung.
check it out: http://www.jajahkota.com/index.php?p=content&id=14
Posting Komentar