“Saya tidak bisa menulis, saya tidak punya bakat menulis.”
Itulah stigma pemikiran sebagian besar orang yang tak
jarang terlontar dari mulut mereka ketika ditanya tentang menulis. Namun kali
ini, mahasiswa Untad mendobrak pemikiran itu. Menulis bukan diawali dengan
bakat, tapi diawali dengan kemauan. Itulah yang dibuktikan oleh komunitas Anak Untad.
Komunitas dengan mahasiswa yang tergabung dari berbagai fakultas bahkan jurusan
yang berbeda, namun memiliki kemauan dan mimpi yang sama untuk membumikan semangat
berprestasi mahasiswa Untad. Tak ayal jika mimpi ini melahirkan satu lagi
gebrakan dahsyat yaitu Workshop of
Writing (WoW).
Kegiatan WoW diselenggarakan mulai tanggal 14 hingga 16
Februari 2014 dan bertempat di gedung Aula FMIPA Untad. Kegiatan yang dilaksanakan
selama tiga hari ini diikuti oleh 40 peserta dari berbagai fakultas yang telah
lulus seleksi dari banyaknya pendaftar yang membludak melebihi kuota yang
dibutuhkan. Baru berlangsung selama sehari pendaftaran dibuka, namun puluhan
mahasiswa telah berhasil mengirimkan aplikasi mereka. sungguh semangat yang
luar biasa.
Secara resmi, acara ini diawali dengan pembukaan oleh
dosen FKIP Pendidikan Fisika, Dr. Unggul Whayono, M.Si. Dengan berbagai motivasi
dan apresisasi, beliau mengungkapkan rasa bangga dan dukungannya terhadap kegiatan
pelatihan kepenulisan ini. Menurut beliau, terkadang, pelatihan kepenulisan yang
diadakan hanya nebeng dengan kegiatan
lain dari suatu organisasi. Namun, kali ini, komunitas Anak Untad mampu
mengadakannya sendiri. Begitulah selipan kekaguman yang muncul dari tutur dosen
FKIP yang juga menjabat sebagai ketua Program Kreativitas Mahasiswa - Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PKM-FKIP) tersebut.
Bukan hanya pendaftaran peserta dan apresisasi diawal
pembukaan kegiatan, tetapi juga proses berbagi ilmu didalamnya pun mendorong banyak
orang mengatakan WOW untuk acara WoW ini. Workshop
kepenulisan ini dinilai sangat berbeda oleh sebgian besar mahasiswa Untad
karena tak hanya menyuguhkan lima materi kepenulisan, dimana workshop biasanya hanya memberikan
pelatihan pada satu genre tulisan saja. Tak hanya itu, semua pematerinya pun berasal
dari kalangan mahasiswa dengan keahlian dan berbagai prestasi pada bidang yang
dibawakannya masing-masing.
Mari meneropong pada proses inti dari workshop ini. Di hari pertama setelah
pembukaan berlangsung, tibalah saatnya para peserta disuguhkan dengan materi
pertama tentang Program Kreativitas Mahasiswa-Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang
dibawakan oleh Pujiati Sari, mahasisawa FKIP, Pendidikan Matematika. Disusul pada
hari kedua, para peserta mendapatkan dua suguhan materi. Pertama, meteri tentang
Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang paparkan oleh Satrio Amrullah dari Fisika, FMIPA.
Kedua, materi tentang penulisan Esai yang disampaikan oleh Nurtria Rembaen,
mahasiswa FKIP, Pendidikan Bahasa Inggris. Hingga pada hari ke tiga pun, para
peserta masih bersemangat mengikuti pelatihan kepenulisan yang diawali dengan
pelatihan penulisan cerita pendek dari Muliati Supandi, mahasiswa FKIP
Pendidikan Fisika dan diakhiri dengan materi penulisan Curriculum Vitae dan Motivation
Letter yang disampaikan oleh Andi Rizky Hardiansyah, mahasiswa FKIP Pendidikan
matematika. Bukan hanya sekedar menerima materi atau memberikan beberapa
pertanyaan, para peserta pun diminta untuk meledakkan ide-ide brilian mereka
untuk dituangkan kedalam bentuk karya tulis.
Antusias
para peserta masih tetap menggebu-gebu meski acara ini berakhir hingga
menjelang magrib. Karena semangatnya, seorang peserta pun mengatakan bahwa
acara ini seharusnya bukan hanya diikuti oleh 40 peserta tetapi juga oleh ratusan
ribu mahasiswa Universitas Tadulako. Bahkan, banyak diantara mereka dan
beberapa mahasiswa yang belum sempat mengikuti acara ini pun mengusulkan untuk
pengadaan Workshop of Writing (WoW)
sesi ke dua.
Hal
lain yang tak kalah WOW dari acara WoW ini adalah sesi penutupannya. Diakhir acara
inilah puncak dimana para ksatria pena WoW dilahirkan. Sesi ini disebut sesi
garduasi yang mana para peserta disematkan pin dan diberikan sertifikat WoW. Setelah
itu, dilanjutkan dengan sesi bertanda tangan bersama di spanduk Workshop of Writing (WoW). Tak hanya
sekedar tanda tangan, kesan dan pesan untuk para ksatria pena kedepan pun
digoreskan bersama tanda tangan itu.
Itulah beberapa hal yang membuat kata WOW sering terlintas
dipendengaran setelah acara ini dinyatakan "sukses" oleh kebanyakan
orang. Satu lagi yang akan selalu terekam dalam ingatan, hal yang dahsyat dari
WoW bukanlah jumlah volunteer atau banyaknya peserta yang hadir melainkan
besarnya semangat volunteer yang selalu ikhlas berbagi dan semangat para
kastria pena yang tetap membara dalam berkarya. Tak ada kata “tak bisa” selama
kita mau belajar. Sekali lagi, menulis bukan diawali dengan bakat, tapi
diawali dengan kemauan. Prestasi
takkan dicapai tanpa adanya kreasi yang ditunjukkan melalui aksi. Keep writing! No excuse.
#Semangat berkarya ^_^


4 komentar:
Great! :D
Thank you,,, :)
good :) boleh nie kak saya belajar menulis sama kak nutria? heee
thank u Lia,,, ia boleh, saya juga baru belajar, kita belajar sama, ya,,, ^_^
Posting Komentar